

BERPELUANG MENDUDUKI JABATAN STRATEGIS
Peran serta kaum wanita dalam perjuangan bangsa Indonesia, baik dibidang pertahanan/keamanan maupun pendidikan sejak dahulu tidak dapat diabaikan begitu saja. Seiring keberadaan dan peran wanita yang semakin maju, dengan didasari kesadaran dan cita-cita RA. Kartini didalam mewujudkan cita-cita kaumnya mencapai persamaan hak sederajat dengan pria, maka kaum wanita tidak tinggal diam dan ikut serta berjuang mengusir penjajah dari bumi Indonesia.
Untuk merealisasikan cita-cita Kartini dan didorong oleh semangat juang untuk mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, pada masa perang kemerdekaan para wanita ikut berjuang di Pangkalan-pangkalan AURI, antara lain di Yogyakarta dan Bukittinggi. Mereka bertugas di bidang kesehatan, administrasi, penerangan, pelipat payung, PLLU, PHB dan dapur umum. Para pejuang wanita inilah yang merupakan cikal bakal Wanita Angkatan Udara.

Bertitik tolak dari kenyataan tersebut dan untuk mewadahi peranserta kaum wanita dalam perjuangan AURI, maka Deputy Menteri/Panglima Angkatan Udara Urusan Administrasi Laksamana Muda Udara Suharnoko Harbani mendapat tugas dan wewenang dari pimpinan TNI Angkatan Udara untuk membentuk Wanita Angkatan Udara (Wara). Dalam penugasan tersebut telah diputuskan bahwa Wara bukan merupakan korps tersendiri, tetapi diintegrasikan dalam korps/kecabangan yang berlaku di lingkungan TNI Angkatan Udara sama dengan anggota militer lainnya.
Dalam rangka merealisasikan pembentukan Wara, maka pimpinan mengambil langkah untuk segera melaksanakan pendidikan Wara dan sebagai tempat dipilih Kaliurang Yogyakarta yang berhawa dingin di lereng gunung Plawangan. Pendidikan Wara pertama, dibawah pimpinan kepala sekolah Letnan Kolonel Penerbang Sumitro, diikuti oleh 30 orang wanita lulusan sarjana dan sarjana muda dari berbagai jurusan. Mereka mengikuti Pendidikan Dasar Militer selama 3 bulan agar memiliki disiplin tinggi dan mental yang tangguh. Pada tanggal 12 Agustus 1963 bertempat di Lanuma Adi Sutjipto, mereka dilantik menjadi Perwira Wanita Angkatan Udara Angkatan pertama, sesuai dengan Surat Keputusan Panglima Angkatan Udara Nomor SK/794/Y-MKS/I/1963.
Seiring dengan perkembangan organisasi, pendidikan Wara berikutnya diberikan kesempatan kepada lulusan SLTA untuk menjadi seorang Bintara Wara. Pendidikan Bintara Wara kini telah dipindahkan ke Lanud Adisumarmo Solo, sedangkan untuk pendidikan Perwira sejak tahun 1975 dilaksanakan di pusat pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat (Pusdikowad) Lembang bersama korps Wanita TNI lainnya. Dalam hal penempatan anggota Wara sama halnya dengan prajurit pria yaitu untuk mengisi kebutuhan organisasi TNI Angkatan Udara, yang meliputi semua bidang, baik dibidang staf operasi, personel, kesehatan, pendidikan maupun logistik. Bahkan ada yang menjadi pramugari. Dalam sejarah perkembangannya personel Wara tidak hanya bertugas di jajaran TNI AU, namun juga di instansi Dephan/Mabes TNI. Disamping itu beberapa anggota Wara juga pernah menjadi anggota DPR pusat maupun daerah. Sampai saat ini Wara tetap menjalin kerja sama dengan korps wanita angkatan lain.
Selama kurun waktu 44 tahun, TNI Angkatan Udara telah melaksanakan pendidikan Perwira Wara sebanyak 32 kali, dengan jumlah 566 orang, sedangkan untuk pendidikan Bintara Wara sebanyak 30 kali dengan jumlah 755 orang. Hingga saat ini seluruh anggota Wara yang masih aktif berjumlah 1321 orang. Wara boleh berbangga hati karena pada tahun 1982, TNI Angkatan Udara telah mencetak penerbang Wanita berasal dari Bintara Wara, mereka dididik bersama para penerbang pria. Setelah lulus mereka dilantik menjadi penerbang militer dan merupakan penerbang militer pertama di lingkungan korps wanita TNI, kemudian disusul beberapa penerbang Wara lainnya. Pada tahun 2007 ini TNI Angkatan Udara kembali melahirkan dua orang penerbang Wara.
Sejarah perjalanan Wara terus berkembang mengikuti arus perkembangan TNI Angkatan Udara. Pelaksanaan tugas yang memerlukan keahlian khusus tidak lagi merupakan monopoli kaum pria, seperti penerbang, teknisi maupun penerjun. Dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia pada tahun 1990 pimpinan TNI Angkatan Udara memberikan kesempatan bagi Wara untuk mengikuti pendidikan olahraga terjun payung. Olah raga lain yang diikuti oleh anggota Wara adalah terbang layang. Prestasi Wara dalam bidang olah raga semakin meningkat dengan berhasilnya meraih beberapa medali emas dan perak dari cabang terbang layang, terjun payung, dan menembak.
Berdasarkan pengamatan berbagai prestasi tersebut, pimpinan TNI Angkatan Udara memahami bahwa dalam diri anggota Wara sesungguhnya terdapat potensi untuk mengisi jabatan-jabatan tinggi di bidang penugasan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila saat ini anggota Wara dipercaya menduduki jabatan-jabatan strategis seperti Komandan Pangkalan, bahkan sudah ada yang meraih pangkat Marsekal Pertama. Dengan motto “Kanya Bhakti Sakti Sejati”, yang berarti prajurit wanita yang mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dengan keahlian dan kemahiran yang dimilikinya, memotivasi Wara agar selalu mengasah diri untuk dapat meraih kesempatan lebih luas lagi.
Berbagai jenis pendidikan baik yang terendah maupun yang tertinggi di TNI Angkatan Udara dan pendidikan yang dilaksanakan di dalam maupun di luar negeri, telah diikuti anggota Wara dengan baik. Keberhasilan Wara dalam mengemban tugasnya tidak hanya memberikan sumbangan positif bagi keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas TNI Angkatan Udara, akan tetapi juga merupakan salah satu bukti keberhasilan perjuangan kaum wanita Indonesia. Semoga Wanita TNI Angkatan Udara (Wara), tetap menjadi srikandi kebanggaan Angkatan Udara khususnya, bangsa dan negara pada umumnya.
Dirgahayu Wanita TNI Angkatan Udara.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar